Showing posts with label ★★★★. Show all posts
Showing posts with label ★★★★. Show all posts

Sunday, March 22, 2015

Book Review: Petak Umpet Minako by @manhalfgod

Judul: Petak Umpet Minako
Penulis: @manhalfgod
Penerbit: Rak Buku
Tanggal terbit: 16 Februari 2015
ISBN: 978-602-711-405-0
Harga: Rp 52.000 (BukaBuku)
Rating: 4/5

------------------------------------------------------------------------
Jujur saja, aku adalah orang yang penakut. Waktu jadi host blog tour buku bergenre horor, aku kesulitan untuk menyelesaikan semua bukunya. But I did anyway. Dari sepuluh buku yang diberikan penerbit, semua jenis ceritanya sama, yaitu seorang tokoh menceritakan pengalaman mistisnya. Yap, jenis cerita mistis seperti yang biasa kamu dengar saat berkumpul dengan teman-teman itu lho. Membaca alur yang serupa jelas bikin aku bosan. Bayangin aja, SEPULUH BUKU!! Nah, saat penulis DetEksi merekomendasikan buku ini untuk dibahas dalam rubrik BookClub, aku langsung tertarik setelah membaca sinopsisnya. Aku juga menemukan dua bab awal buku di akun wattpad sang penulis. Kalau kamu Kaskus-er, kamu juga bisa baca di sini.

Cerita diawali oleh kisah Baron. Dia adalah seorang karyawan kantoran yang biasa-biasa saja. Dia berusaha untuk merangkak naik ke tangga kesuksesan meskipun pekerjaan itu bukan passionnya. Demi bisa meminang sang pacar, Gabby, dia rela menjalani hidup seperti itu. Apalagi, Gabby datang dari keluarga orang penting. Nah, malam itu, Gabby memaksa Baron agar menyempatkan diri datang ke restauran tempat reuni SMA-nya diadakan. Saat Baron dalam perjalanan menyusul, ternyata Gabby dan teman-teman lain pergi ke lokasi SMA-nya untuk bernostalgia. Baron makin khawatir saat Gabby mengiriminya SMS:
''Sudah sampaidimana,Ron? Kami sudah di sekolah. Sekarang Vindha sedang memulai 'upacara'-nya. Perasaanku tidak enak, cepatlah datang!''
Sesampainya di sekolah, tempat itu sangat sepi. Baron mencari teman-temannya. Tapi, saat dia bertemu Edward, cowok itu malah menyerang Baron! Edward seolah-olah nggak mengenal Baron sama sekali. Tiba-tiba, Adam datang menyelamatkannya. Saat Adam berusaha melompati pagar sekolah untuk mencari bantuan, jiwanya terenggut. Setelah melihat kejadian menyeramkan itu, Baron nggak sadarkan diri. Saat dia terbangun, dia sudah menjadi bagian dari permainan yang diusulkan Vindha, yaitu Hitori Kakurenbo.

Sunday, January 25, 2015

Book Review: Just One Day by Gayle Forman

Title: JUST ONE DAY
Authors: Gayle Forman
Publisher: SPEAK (An imprint of Penguin Group Inc.)
First published in the USA by Dutton Books, 2013
Publication date: August 2013
Page: 369
ISBN: 978-0-14-242295-3
Price: Rp 292.000 (Periplus Online)
Rating: 4/5

ALLYSON Healey's life is exactly like her suitcase-packed, planned, ordered. Then on the last day of her three-week post-graduation European tour, she meets Willem. A free-spirited, roving actor, Willem is everything she's not, and when he invites her to abandon her plans and come to Paris with him, Allyson says yes. This uncharacteristic decision leads to a day of risk and romance, liberation and intimacy: twenty-four-hours that will transform Allyson's life. A book about love, heartbreak, travel, identity, and the "accidents" of fate, Just One Day shows us how sometimes in order to get found, you first have to get lost... and how often the people we are seeking are much closer than we know.
"We are born in one day. We die in one day.
We can change in one day. And we can fall in love in one day.
Anything can happen in just one day."

It took few months for me to finally finish this book. Boring? Yeah, but not entirely because I'm sober enough to give it 4/5 stars. I spotted this book on The Bookie Looker. It seemed enchanting out of all the beautiful things on that blog. So, I bought it trough Periplus Online, which is one of my book shopping solution. Since I'm a member, I always get discount 15% or more ;) Other than the book's outer look, I've heard so many praises of Gayle Forman's works. I've read If I Stay and Where She Went in a day without a break (except went to shower, had a drink and food) and I love them! Well, I like the first book better. That was why I had no doubt to purchase Just One Day.

Image by TRAVELFREAK.COM

Some people say that they can't connect with Allyson character. Some people say that Allyson's life is related to them. But for me, reading this book is like reading a friend's story on her blog. Allyson's life makes me so envy. She has good grades and her parents are generous. Europe trip for a graduation gift? That is something unusual in here, especially in my family. We don't do gift for grad. We just do a so-not-big feast at a so-not-fancy restaurant and that's it. I believe high school is so much easier in my country. When Allyson and Melanie (the best friend from childhood) arrived at London, Allyson decided to go on a just one day trip to Paris with the Dutch boy named Willem (I don't get the name). That's where the story begin...

Friday, December 5, 2014

Book Review: People Like Us by Yosephine Monica

Judul: PEOPLE LIKE US
Penulis: Yosephine Monica
Penyunting: Tia Widiana
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan I, Juni 2014
Tebal: 330 Halaman
Harga: 45.900 (Owl Bookstore)

People Like Us


This book was given free in exchange for an honest review and blog tour
-----------------------------------------------------------------------------------------

Sudah pernah baca buku The Fault in Our Stars karya John Green? Yap, cerita yang diusung oleh Yosephine Monica tidak berbeda jauh. Genre-nya sama. Tapi menurutku, buku ini jauh lebih baik (sorry to say) karena feeling yang aku rasain setelah membaca buku ini lebih dapet, daripada TFiOS yang terasa flat-flat aja. Menitikkan setetes air mata pun enggak. Next time aku bakal bikin review buku biru itu deh. But don't get your hope high soalnya buat nulis review aja aku males banget he he he.

So let's talk about the story. People Like Us bercerita tentang Amelia Collins, gadis berumur 15 tahun yang termasuk anak 'standar'; tidak cantik, tidak jelek, tidak pintar, dan tidak bodoh. Dia sangat suka menulis. Bisa dibilang tulisan di blognya populer di sekolah. Tapi, Amy, panggilan akrabnya, nggak cuma dikenal sebagai penulis handal. Dia juga dikenal sebagai penguntit Benjamin Miller, seorang bintang sepak bola sekolah. Sebenarnya, kecintaan Amy pada Ben nggak berawal saat di high school saja. She'd known him for several years ago. Hanya saja, Ben sama sekali nggak ingat akan sosok Amy.

But faith has its own way. Amy divonis kanker. Lana, sahabatnya, membujuk Ben agar menjenguk Amy sesekali di rumah sakit. Awalnya sih Ben males banget. Siapa sih yang mau menjenguk stalker sendiri? Gengsi, Bro! Tapi, pandangan Amy tentang dunia, termasuk pandangan Amy tentang Ben yang ternyata suka menulis, membuat Ben terpesona.

Kadang kita memilih pilihan yang baik,
kadang kita memilih yang buruk.

Sering kali, dalam beberapa kasus,
Ben memilih pilihan yang tidak tepat.
Dia memutuskan untuk tidak mengembangkan
kemampuan menulisnya. Dia memutuskan untuk
tidak membuka diri pada keluarganya.
Dia memutuskan untuk melepaskan Irina.
Dia memutuskan untuk terjerat dalam kesedihan yang panjang.

Pilihan yang salah, menurutku,
karena hal-hal itu membuatnya tidak bahagia.

Lalu Ben bertemu Amy...

Monday, June 2, 2014

Blog Tour: Cheer Boy

CheerBoy!! Blog Tour from Penerbit Haru
Cheer Danshi! © 2010, SHUEISHA Inc., Tokyo
28 April 2014 - 2 Juni 2014
*LAST STOP*

-------------------------------------------------------------------------------------------
Judul: CHEERBOY!!
Penulis: Asai Ryo
Penerjemah: Faira Ammadea; Proofreader: Dini Novita Sari
Desain Cover: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Penerbit Haru; Cetakan I, November 2013
Tebal: 428 Halaman; Harga: Rp 40.600 (OwlBookstore)
ISBN: 978-602-7742-26-0
Rating: 4/5

Sinopsis:
"Cheerleader... Biasanya cewek yang melakukannya, kan?"

Haruki cedera. Cowok itu menggunakan cederanya sebagai alasan untuk berhenti dari Judo karena menyadari batas kemampuannya. Padahal Haruki lahir dalam keluarga pejudo dan kakak perempuannya selalu jadi pemenang dalam setiap kejuaraan Judo. Kazuma, teman sepermainan Haruki tiba-tiba ikut berhenti Judo dan menyarankan hal gila. Mereka akan membentuk tim cheerleading cowok!! Padahal, olahraga itu kan olahraga cewek!

Tapi, saat anggota berhasil mereka kumpulkan, ternyata mereka adalah cowok-cowok dengan masalah masing-masing. Saat masalah itu saling berbenturan, akankah cheerleading bisa membuat mereka tetap bersatu? Akankah cheerleading bisa menyelesaikan semua masalah?

Sunday, May 25, 2014

Petualangan Pinocchio



Judul: THE ADVENTURES OF PINOCCHIO
Penulis: Carlo Collodi
Alih Bahasa: Lulu Wijaya
Desain & Ilustrasi Sampul: Ratu Lakhsmita Indira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Tebal: 208 Halaman
Harga: Rp 40.000 (BukaBuku)
ISBN: 978-602-03-0466-3

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Mastro Cherry memberikan potongan kayu itu pada temannya, Geppetto, yang menerimanya untuk membuat boneka tali yang bisa menari, bermain anggar, dan berjungkir balik."
 Pasti kamu sudah nggak asing lagi kan dengan kisah boneka kayu bernama Pinokio? Nah, bersiaplah untuk mengikuti sisi lain dari boneka ini. Beberapa hal dalam kisah karangan Carlo Collodi ini akan sedikit mengejutkan. Apalagi bagi kamu yang hanya pernah mendengar kisah Pinokio versi Disney (including me, yes!). Carlo Collodi adalah pencipta karakter Pinokio. Tau nggak sih, ternyata Collodi ini nggak suka anak-anak lho! Apalagi anak laki-laki.

Maka dari itu, jangan kaget deh kalau kamu bakal menemukan karakter Pinokio yang digambarkan dengan sedikit lebih seram. Pinokio bukanlah anak laki-laki yang innocent dan kenakalannya bisa dimaklumi. Di sini, kenakalan Pinokio bener-bener diluar batas. Dia bahkan sampai menyebabkan Gepetto dipenjara. Dia juga membunuh si jangkrik lho! Serem kan? That's why aku kurang merekomendasikan buku ini untuk anak-anak. Meski cerita klasik, sepertinya Gramedia menerbitkan buku ini untuk penikmat cerita klasik yang sudah cukup umur :)

Sunday, May 11, 2014

Wishing Her To Die



Judul: WISHING HER TO DIE
Penulis: Jung Soo Hyun
Penerjemah: Anggi Mahasanghika
Cover Designer: Angelina Setiani
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan Pertama, Maret 2014
Tebal: 410 Halaman
Harga: Rp 67.000 (BukaBuku)
ISBN: 978-602-774-230-7

This book was given free by the publisher in exchange for an honest review

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sinopsis:
Kepada Lee Min-Ah.
Salam kenal. Aku Yoon Jae-hee. Meski sulit dipercaya,
sekarang aku ada di dalam tubuhmu.

Jae-hee
Nasibku sungguh sial: pacarku meninggalkanku, aku tidak lulus audisi musikal, ditambah aku mati ditabrak truk. Tapi aku mendapat kesempatan untuk merasuki tubuh orang lain meskipun hanya sehari, dan aku mengambil kesempatan itu. Boleh, kan? Hanya satu hari saja.

Min-ah
Orang kira aku memiliki segalanya: karir sebagai pengacara di firma hukum raksasa korea, kecantikan, dan kekayaan. Tapi, aku masih terikat dengan masa laluku. Aku harus menyelidiki semuanya sampai tuntas. Namun, kenapa aku membuang waktu mengikuti audisi musikal yang bahkan tak bisa kuingat? Ke mana ingatanku selama beberapa jam itu? Jae-hee? Siapa Jae-hee? Kenapa sepertinya dia menginginkan tubuhku selamanya?

Review:
Genre horor? Bukan. Genre thriller? Bukan juga. Hanya karena ada kata 'die', bukan berarti buku ini berisi tentang kematian yang tragis. No! Aku malah bener-bener amazed dengan twist yang diusung oleh Jung Soo Hyun. Kadang aku malah merasa seperti sedang nonton drama korea di tv instead of reading a novel. Untuk ide cerita, Wishing Her To Die patut diberi jempol (^_^)

Sunday, December 15, 2013

[K-Toon] Simple Thinking about Blood Type

SIMPLE THINKING ABOUT BLOOD TYPE #1
© 2013 by Park Dong Sun
*buku ini diberikan oleh penerbit secara gratis untuk direview*
Penerjemah: Achie Linda; Penerbit: Haru
Cetakan pertama, Desember 2013; Tebal: 262 halaman
ISBN: 978-602-7742-25-3; Harga: Rp 46.400 (BukaBuku)
Rating 4/5 bintang

Blurb:
Tahu nggak sih kalau orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas? Apa jadinya kalau mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!

Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita lho. Meski sifat seseorang tidak bisa hanya dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Blood Type ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu untuk memahami orang lain, ya!

Review:
Awalnya aku cukup pesimis dengan buku ini karena aku bukanlah pecinta komik. Ya, ini bukan novel, melainkan komik korea yang berbentuk seperti novel. Jika dilihat dari judulnya, buku ini tidak cocok dimasukkan dalam kategori fiksi. Nah, terus gimana dong?

Wednesday, November 20, 2013

Shiver: The Cold, The Heat, The Shiever

SHIVER
Copyright © 2009 by Maggie Stiefvater
Published by Scholastic Inc.
Printed in the U.S.A, June 2010 (Paperback)
ISBN: 978-0-545-12327-3

Grace has spent years watching the wolves in the woods behind her house. One yellow-eyed wolf -- her wolf -- watches back. He feels deeply familiar to her, but she doesn't know why.

Sam has lived two lives. As a wolf, he keeps the silent company of the girl he loves. And then, for a short time each year, he is human, never daring to talk to Grace... until now.

For Grace and Sam, love has always been kept at a distance. But once it's spoken, it cannot be denied. Sam must fight to stay human -- and Grace must fight to keep him -- even if it means taking on the scars of the past, the fragility of the present, and the impossibility of the future.

********

I hope you're not tired with the werewolf things. If you are, please give this book a chance :) I can guarantee you that this book is worth a shot. The story is written in two point of views, Grace's and Sam's. When you read from Grace, you will not know what Sam is thinking, and vice versa. When you move to Sam's, the story continues, no longer telling you the same stage as the previous with Grace's. So that's what I like. Maggie somehow not blowing out all over. She is keeping me wonder what the other might feel and the story is not like moving in circle. It's a page turner!

Sunday, November 3, 2013

Joshua Files #2: Ice Shock

Judul: Kejutan di Gunung Es
The Joshua Files #2: Ice Shock © M.G. Harris
Alih Bahasa: Nina Andiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Desember 2010
Tebal: 368 Halaman; ISBN: 978-979-22-6494-4

Joshua berhasil membawa Codex Ix ke Ek Naab [baca review Joshua Files #1], tapi tujuan awalnya untuk memastikan kematian ayahnya belum terselesaikan. Dalam buku inilah, Kejutan di Gunung Es, Joshua kembali berpetualang di luar kota Oxford mencari kebenaran atas kematian sang ayah.

Pencarian ini berawal saat Joshua dan ibunya bertemu seorang teman lama, Rodrigo, yang mengatakan bahwa tanggal 16 Juni dia bertemu dengan Andreas. Bagaimana bisa? Bukankah itu tanggal kematian ayahnya? Kondisi ibu Josh kembali lemah mendengar pernyataan itu. Saat ibunya terbaring tak berdaya, Josh mengajak Tyler ke pesta halloween di rumah keluarga Thompson. Rumah yang dikabarkan pernah didatangi ayahnya bersama dengan orang-orang berdasi. Josh ingin tahu apa yang ayahnya cari disana, tapi di rumah itulah dia bertemu lagi dengan sedan biru, Simon Madison. Josh dan Tyler berhasil kabur dari pria jahat itu dengan membawa amplop berisi salinan buku harian sang arkeolog dan beberapa lembar isi Codex Ix. Namun saat pada suatu malam dia sedang bersama Ollie, amplop itu menghilang dari kamarnya.

Siapakah yang bisa Josh percaya? Salah satu dari temannya pasti seorang mata-mata. Atau mungkin keduanya? Kasihan Josh. Diumur yang sangat muda, dia sering berada di posisi hampir mati dan tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Sebelum perayaan natal, ibunya mengajak Josh mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi Josh bersikeras ibunya lebih membutuhkan hal itu, dan Josh lebih suka bersenang-senang dengan temannya. Maka saat ibunya menjalani misa, Josh kembali ke Ek Naab.

"Saat kau telah mengeliminasi hal-hal yang tidak mungkin, apa pun yang tersisa, betapa pun tidak mungkinnya, adalah kebenaran." [Hal. 147] 

Friday, November 1, 2013

Rencana Besar

Judul: Rencana Besar
Penulis: Tsugaeda
Penerbit: Bentang Pustaka (Mizan Group)
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 387 halaman
Harga: Rp 49.300 (di BukaBuku)
Rating: ★★★★


Makarim Ghanim bukan detektif. Dia adalah konsultan bagi pemerintah dan perusahaan-perusahaan dalam hal kepegawaian. Tak pernah dia menyangka bahwa kasus yang ditawarkan oleh teman lamanya, Agung Suditarma, menyeretnya terlalu jauh. Makarim harus bertindak sendiri karena kasus fraud UBI ini tidak boleh bocor. Ada tiga nama yang harus dia selidiki di Surabaya; Rifad Akbar (Ketua Serikat Pekerja), Amanda Suseno (Pegawai teladan yang ambisius), dan Reza Ramaditya (Pegawai cerdas yang mengalami demotivasi mendadak). Pihak internal UBI meyakini ketiga nama tersebut bertanggung jawab atas hilangnya uang perusahaan sebesar 17 milyar rupiah.


"Makarim beriman pada kalimat peringatan: Kejahatan terjadi karena ada peluang." [Halaman 85]


Diiming-iming uang muka sebesar dua milyar rupiah, Makarim memutuskan untuk mengambil cuti dari kantor yang dibangunnya, Makarim G. & Co. Dia mendapat akses penuh atas data-data ketiga orang tersangka. Dengan berkedok sebagai calon nasabah, dia mulai mendekati mereka. Memang tidak mudah memutuskan siapa yang dia yakini sebagai penanggung jawab fraud ini, tapi Makarim akhirnya memiliki jawaban.

Semudah itu kah kasus ini? Tidak!

Setelah berkemas dan siap untuk terbang kembali ke Jakarta, mantan istrinya menelpon dan menceritakan kasus serupa yang terjadi pada tahun 2006. Informasi ini menyadarkan Makarim akan hal-hal yang sebelumnya tidak dia pikirkan. Informasi ini mengubah cara pandangnya, membuatnya marah kepada Agung karena tidak sepenuhnya jujur, dan frustasi karena ada nama baru, Ayumi, yang datanya tak bisa dia temukan dimanapun. Tanpa mengulur waktu, dia menemui Reza di taman. Saat sedang berbincang dengannya, Reza ditembak, di depan mata Makarim.


"Reza sudah mati. Apa yang harus kulakukan? Apa aku siap menghadapi semua ini? Aku benar-benar seperti anak kecil tersesat yang tidak tahu harus kemana dan melakukan apa." [Halaman 183]


Makarim dalam bahaya. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyelamatkannya. Dia tidak bisa mempercayai siapapun. Yang harus dia lakukan adalah menyelamatkan Amanda. Tapi hal itu sangat berbahaya. Seorang pria bermasker hitam terus menerus menembakkan peluru ke arahnya. Akankah Makarim selamat? Siapa yang mencoba membunuhnya? Apakah Rifad ada kaitannya dengan semua ini?

Saturday, October 12, 2013

The Death Cure: Kembali Ke Maze

THE DEATH CURE (Maze Runner #3)
Copyright: © 2011 By James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penerbit: Mizan Fantasi, Cetakan I, Februari 2012
Tebal: 492 Halaman; ISBN: 978-979-433-678-6
Rating: ★★★★

"Mungkin ini hanya satu lagi permainan untuk melihat otak-otak mereka bereaksi, dan mengamati perasaan mereka." [Hal. 55]

Thomas menjadi seorang buron. Rasanya sulit mempercaya bahwa WICKED is good seperti apa yang Teresa yakini. Keadaan jauh sangat tidak terkendali ketika Thomas, Brenda, Jorge, Minho, dan Newt berhasil kabur dari markas besar WICKED menuju kota Denver. Mereka bertemu dengan mantan glader yang ternyata masih hidup. Mereka berkomplot dengan sebuah organisasi rahasia yang dijuluki Tangan Kanan. Keadaan semakin kacau ketika Thomas harus membunuh temannya sendiri. Jonson dari WICKED juga tak berhenti mengincarnya dan menginginkan otaknya!

Begitu banyak aksi mendebarkan yang disuguhkan oleh James Dashner dalam buku ketiga The Maze Runner ini. Kata kunci dari trilogi ini adalah maze dan pelari. Sepertinya Dashner berpatokan pada kedua kata kunci tersebut. Tanpa ada dinding tinggi yang dirambati oleh tanaman, markas besar WICKED dirancang layaknya sebuah maze. Lorong-lorong tanpa jendela dan penerangan yang minim menjadi setting paling dominan di sini. Sedangkan Thomas dan kawan-kawannya menghabiskan banyak waktu di markas, berlari dan terus berlari, menghindari para crank dan penjaga markas.

Terlepas dari hal-hal yang mendebarkan tersebut, aku merasa sosok Thomas semakin hari semakin bodoh, seperti yang sudah aku bahas di review buku kedua, The Scorch Trial. Bodoh yang aku maksud adalah sering melamun, terlalu mengingat masa lalu, dan bertindak ceroboh. Kejadian yang paling bodoh yang dilakukan Thomas ketika di Denver sehingga membuatku ikut geregetan adalah ketika Thomas, Minho, Brenda dan Jorge berada di cafe. Seorang petugas pemeriksa pengidap Flare menyuruh semua orang keluar saat dia dan teman-temannya mendapati ada seorang lelaki yang sudah mengidap Flare berkeliaran. Brenda sudah menyuruh Thomas segera keluar, tapi Thomas hanya terdiam, tertegun, dan memperhatikan para petugas bekerja. Sebagai seseorang yang sedang menyamar dan membaur, aksi Thomas benar-benar bodoh!

Setelah mendekati akhir kisah, aku bertanya-tanya bagaimana orang-orang menganggap trilogi The Maze Runner ini semakin jelek? Dari segi cerita, aku menganggap The Death Cure sama bagusnya dengan The Maze Runner dengan caranya sendiri. Buku ini lebih banyak menyuguhkan pertarungan dan pembuatan strategi yang lebih banyak daripada buku-buku sebelumnya. Buku ini juga membuat kita ikut menerka kelompok mana yang bisa dipercaya. Meski ada beberapa kalimat yang rasanya kurang tepat di beberapa halaman awal, aku berani memberikan buku ini rating empat bintang.

Tentang Penulis:
James lahir dan dibesarkan di Georgia, namun sekarang dia tinggal di Rocky Mountains bersama keluarganya. Dia dikaruniai empat orang anak, yang mana banyak orang bilang empat terlalu banyak tapi James menikmatinya. James pernah belajar akuntansi dan bekerja di bidang keuangan, tapi dia sudah menulis selama beberapa tahun. Di waktu luangnya, James suka membaca, menonton film dan acara tv, ski, dan membaca (lagi). Dia sangat bersyukur atas apa yang telah dia raih dan merasa bahwa dia adalah laki-laki paling beruntung di dunia.

Meet him on: [ Goodreads ] [ Twitter ] [ Website ]

Saturday, September 28, 2013

The Scorch Trial: Surga Yang Aman


Judul: The Scorch Trial (Maze Runner #2)
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Meidyna Arrisandi
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2012

Sinopsis:
Selama ini Thomas keliru. Ada dua Maze. Namun, berkebalikan dengan Maze yang dihuninya, Maze lain didiami oleh sekelompok anak perempuan, yang dikenal sebagai Grup B. Bahkan, Teresa yang disangkanya hilang, ternyata justru bergabung di sana. Kini Grup B menantinya dengan tugas khusus: membunuh Thomas! Namun, bukan kematian yang membuatnya jerih, melainkan pengkhianatan Teresa, gadis yang diam-diam dicintainya.

Sementara itu, jumlah para Glader berangsur berkurang. Keadaan di luar Maze lebih mengerikan dari yang mereka duga. Bola baja yang muncul tiba-tiba dari kegelapan, badai gurun pasir yang merajam habis sampai ke tulang, hingga gerombolan Crank haus darah, semakin menciutkan hati mereka. Namun, mereka terus melangkah maju, demi menemukan jawaban dari misteri selama ini, demi menemukan jalan pulang menuju rumah dan keluarga.

Semua kesulitan dan kengerian di Maze barulah awal dari serangkaian proses kejam dan mendebarkan. Berlanjut di Scorch, percobaan baru telah menghadang. Untuk bisa lolos, kali ini mereka tak boleh sekadar bermodal nekat. Diperlukan kecerdikan dan ketajaman insting karena musuh-musuh mereka bersembunyi rapat di balik dinding ilusi.

Wednesday, September 18, 2013

Resilient Book Tour: Review

click the banner above to check out the rest of the tour

*********************************************************************

Title: Resilient
Author: Patricia Vanesse
Genre: YA Sci-Fi/Paranormal
Details: 318 pages, released Sept 3rd, 2013
Publisher: Pants on Fire Press
Source: received for book tour
Blog Tour With: Candace's Book Blog
Rating: ★★★★
Synopsis:

Livia has never felt like she fits in. As normal as it sounds, Livia is anything but ordinary. She can feel every emotion of every single person around her, and it's maddening. In pursuit of some psychic quiet, she moves with her family from New York City to Whidbey Island in the lush and sleepy Pacific Northwest. But when a horseback riding accident in her new home gives her a broken leg that heals in a day, she finds that another unexplainable ability has manifested, and her life isn't about to get any easier.

Adam has no problem fitting in and making friends. In fact, he's the top of the school, the boy everyone knows and loves. However, people only see what he allows them to. No one knows what Adam is truly capable of. After witnessing Livia's accident, Adam sees something intriguing in her quick recovery, something that gives him hope that he's not alone.

Adam is the only one whose emotions Livia can't read. Afraid of not knowing what goes on behind his dark eyes, Livia decides to keep him at a distance. Yet the more she tries to ignore him, the more alluring he becomes, and while their personal quests for identity will inevitably bring them closer together, it is the confirmation of what they really are that threatens to tear them apart.

Resilient, told in alternating point of views, is a gripping story of survival and romance, in which two teenagers face the consequences of being anything but normal.

Review:
URGH! This book is driving me crazy. I think I'm still trapped in Livia's world, watching her learning to improve her skills and feeling sorry for Adam. I read this book only for four days, I could read it for a day but I had to go somewhere else, for real. First of all, I want to talk about the book cover. It's not sweet, it's not girly, but it's inviting. I do judge book from its cover. I feel relieved because the story is extreamly great! I didn't buy the meaning of the cover at first, until I finished the book and now I know what it means.

The story is almost similar to I Am Number Four by Pittacus Lore, just almost. I don't need to compare it because there are lot of different things. The story is written from two point of views, Livia's and Adam's. Livia has a lot of 'strange' abilities that you can not explain in science. She develops a new ability each year. The most annoying ability is she feels what others' feeling, except Adam's. So at this point, you can see the connection of Livia-Adam is built like Bella-Edward on Twilight saga. But do not worry! I found Livia and Adam's relationship is not irritating. Their love is strong somehow. Adam is probably the cutest guy in high school. He always has eyes starring at him wherever he goes.

'Life is getting harder everyday' and so is Livia and Adam's. Livia's uncle is keeping a big secret for a very long time. A fake sister suddenly shows up and haunts her. Livia puts Adam in danger. A man warns them to seperate. Daniel, the lost son, makes the story more alive. He is they key. If you only willing to read a book with a happy ending, I don't recommend this book for you. But if you like fantasy, and adventure, YOU HAVE TO READ THIS! The ending is hanging. I'm curious and obviously can't wait for the next book :)

FIND THIS BOOK ON:
[ Goodreads ] [ Amazon ]

About the Author:
[ Website ] [ Blog ] [ Twitter ] [ Facebook ]

Patricia Vanasse was born and raised in Rio de Janeiro, Brazil. Now she lives on Whidbey Island in the Pacific Northwest with her husband, two adorable children, and two crazy dogs. She has been trough Culinary Arts, Psychology, Law School, and now has finally found her passion in creative writing. She also loves travelling, cooking, and is an avid reader. Her strength- believes that everything is possible.

Giveaway:
Kindle Paperwhite (US)
Signed Resilient paperback (INT)

a Rafflecopter giveaway

Saturday, September 7, 2013

If I Stay

Title: If I Stay (If I Stay #1)
Author: Gayle Forman
Publisher: Penguin USA
Published Year: 2010
Pages: 320

Buy This Book from Book Depository, Free Delivery World Wide

A critically acclaimed novel that will change the way you look at life, love, and family.

In the blink of an eye everything changes. Seventeen year-old Mia has no memory of the accident; she can only recall what happened afterwards, watching her own damaged body being taken from the wreck. Little by little she struggles to put together the pieces-to figure out what she has lost, what she has left, and the very difficult choice she must take. Heartwrenchingly beautiful, Mia's story will stay with you for a long, long time.

*****

If I Stay becomes one of my favorite because it has a lot of emotions. I was brought back and forth to Mia's memories before the accident and when she's standing next to her almost-dead-body, invisible from everyone. The story is written from Mia's point of view. At first, her memories are beautiful. Her life has a lot of differences, her family and her music. I like the music things the most in this book. I personally a musician and it's just so great to read a book that has a lot of it. I admire how her parents and little brother loved Punk music and she gets into classic, playing cello. Not all parents can understand and still support when their child going to different direction. Mia is also having a relationship with a lead singer and lead guitar of a emocore band (Ha! I don't even know what kind of genre it is). This relationship reminds me of August Rush movie. Mia is describes as a dark skin girl, who's not popular but also not the geek. She's actually can't be compared to her parents nor her brother because she's totally different. She's the only one with black hair while the others are blond. But she has a bestfriend, Kim, who has a similar look. She likes sarcastic jokes and yes, I found it hard not to laugh!

When I was drowning into the story, I almost forgot that Mia's parents weren't around anymore. When Mia told about her past, I was like listening to my friend's story, like we were telling the best moment of our lives. I read those moments happily, until Wilson came and it meant that Teddy, her little brother, was gone too. My emotions was pushed to different direction. I wasn't willing to read anymore. I was too sad. My eyes were drown in tears. I was no longer sharing the best moment with a friend anymore, I was more like trying to cheer her up. She was mourning. Mia was broken. She has no one now and the option to stay seemed so far away. Until...her boyfriend, Adam, made a vow.

"If you stay, I'll do whatever you want. I'll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I'll do that, too. I was talking to Liz and she said maybe coming back to your old life would just be too painful, that maybe it'd be easier for you to erase us. And that would suck, but I'd do it. I can lose you like that if I don't lose you today. I'll let you go. If you stay."

This book is like a drug. I want more and more and more. I still can't believe that the kindle version not even has 300 pages. This book leaves me hanging. And I'm really glad I've bought the 2nd book, Where She Went. "A critically acclaimed novel that will change the way you look at life, love, and family." Apparently, it's true. Especially for the family thing. I think I cried too much not because of the story was real sad, but also because I imagined how if I lost my parents in a sudden death, without having a chance to say goodbye? Well, I know I have to keep thankful for everything I have today. I am relieved my parents and I are okay. Tomorrow is a mysteryOh, on the last page, Mia is still unconscious. So.....what will happen next? Does she decide to stay? Well, I don't know. We'll see on the next book. By the way, I've heard that this book will be brought to sceen. Who plays Adam and Mia has been decided.

Jamie Blackey will play as Adam and Chloe Grace Moretz will play as Mia. I'm not familiar with them. But apparently, Jamie takes role on Snow White and the Hunstman and I don't even remember him. I'm sure I was too crazy watching my Hemsworth there :) So so far, I don't have any critique for them. Adam isn't described as a cute handsome sporty guy and Mia is just described as sweet. I hope the movie script will be well written. I hate a movie which ruins the book version.

Tuesday, August 27, 2013

I'm Dangerous. I'm DIVERGENT.

Judul: Divergent

Penulis: Veronica Roth
Penerbit: Mizan Fantasy
Tahun Terbit: 2012 
Jumlah Halaman: 548
Harga: Rp 59.000

Aku dibawa menuju dunia dimana manusia dikelompokkan menjadi lima faksi sesuai dengan sifatnya; Amity yang menyukai kedamaian, Candor yang mengedepankan kejujuran, Erudite yang menganggap ilmu adalah segalanya, Abnegation yang mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, dan Dauntless yang tak kenal takut. Pengelompokan ini mengingatkanku pada kisah Harry Potter. Ketika menginjak usia 16 tahun, mereka berhak menentukan faksi mana yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Hidup sebagai seorang Abnegation membuat Beatrice terpaksa meninggalkan keluarganya untuk menjadi seorang Dauntless.


Beatrice adalah satu-satunya anak pindahan dari Abnegation. Dia mendapatkan teman-teman yang baik selama masa inisiasi, Christina, Will, dan Al. Tris, nama baru Beatrice, adalah yang paling lemah di babak pertama, tapi prestasinya di babak kedua membuat teman-temannya berubah, termasuk Al. Dia bersama Peter, yang berhasil menusuk mata pemenang babak pertama, berusaha melempar Tris ke jurang. Aksi mereka berhasil dihentikan oleh Four, salah satu instruktur inisiasi. Sikap dingin Four tidak menghentikan rasa tertarik Tris kepadanya. Hubungan mereka semakin dekat di luar masa inisiasi dan Four selama ini menyimpan banyak hal yang mengejutkan!

Kisah Tris semakin memanas ketika masa inisiasi berakhir. Pada suatu malam, semua anggota Dauntless berbondong-bondong mengambil sejata, naik ke atas kereta, dan membunuh petinggi pemerintahan dari faksi Abnegation. Sepertinya semua orang tidak sadarkan diri, kecuali dirinya dan Four! Dalang dibalik pemberontakan itu pun terkuak. Tris bersama dengan beberapa Abnegation yang tersisa, termasuk ayahnya, berjuang untuk merusak sistem yang membuat orang-orang Dauntless itu tidak sadar. Selama perlawanan itu, dia harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.


Friday, August 23, 2013

Bocah Pencari Kota Yang Hilang

Judul: The Joshua Files #1: Invisible City/Kota Yang Hilang
Penulis: M.G. Harris
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009
Jumlah Halaman: 384
Harga: Rp 48.000


Joshua tinggal di Oxford, London dan masih berumur 13 tahun. Dia sudah dua tahun ini berlatih capoeira. Dia mulai menulis blog ketika dia merasa kematian ayahnya tidaklah wajar. Entah karena dia memang terlalu pintar untuk dikelabui oleh polisi atau keinginannya menolak kematian ayahnya terlalu kuat, dia mulai menyelidiki kematian sang ayah. Ibunya, yang seorang dosen sejarah Inggris, sudah cukup tertekan mendapat berita kematian suaminya dan harus menjalani perawatan psikis saat D.I. Barrat mengatakan bahwa sebelum meninggal, Profesor Andres Gracia terlihat mendatangi seorang wanita yang sudah cukup lama dia temui. Keingintahuan Joshua semakin besar. Meskipun masih anak-anak, dia dapat mengetahui bahwa kasih sayang ayah dan ibunya sangatlah tulus.

Seseorang di luar sana memperhatikan tulisannya. TopShopPrincess, begitulah identitas yang digunakan. Orang ini mendukung teori-teori Joshua tentang kematian ayahnya dan dia juga percaya adanya UFO. Namun, suatu hari TopShopPrincess menyinggung hatinya. Joshua menghapus blognya dan membuat blog dengan password sebagai tempat menulis laporan penyelidikan yang sedang dia lakukan. Dia tak menyangka pada suatu hari ada seseorang yang membobol rumahnya dan berhasil mencuri semua laptop dan sebuah buku yang sangat penting bagi ibunya! Pembobol itu juga yang membeli buku yang ingin dibelinya di toko buku bekas. Sebenarnya apa yang sedang dia incar? Pembobolan juga hampir terjadi di kantor ayahnya di universitas. Saat membersihkan barang-barang ayahnya di sana, Joshua menemukan potongan Surat Calakmul yang ternyata sedang diincar-incar oleh berbagai pihak. Ada sebuah catatan dari ayahnya agar segera memusnahkan potongan itu, tapi Joshua malah membawanya dan mempelajarinya. Bersama TopShopPrincess yang ternyata seorang gadis cantik, dan teman berlatih capoeiranya, Joshua melakukan petualangan mencari kota yang hilang, kota milik Suku Maya, kota yang selama ini dicari-cari oleh ayahnya.

Wednesday, July 31, 2013

The Maze Runner

Judul: The Maze Runner
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 526
Rating: ★★★★



Sinopsis:
Setiap hari mereka harus berlari. Menyusuri lorong Maze yang berkelok-kelok di luar dinding Glade, tempat mereka tinggal, hingga senja tiba. Dan, ketika kegelapan turun, para pelari harus sudah ada di dalam Glade. Ya, pada saat itulah Griever, monster buas dan ganas, tak segan menerkam siapa saja yang masih berkeliaran di dalam Maze.

Mereka bukan sekadar berlari. Itu cara mereka bertahan hidup. Dengan berlari, mereka berharap menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk itu. Keluar untuk kembali pulang menjumpai keluarga mereka. Namun, lintasan Maze selalu berubah dari hari ke hari. Rasanya, mustahil bisa keluar dari tempat itu.

Suatu hari pintu batu pelindung mereka tak lagi turun menurup. Griever-griever itu bisa menyeruduk masuk kapan saja. Setiap hari, satu anak dibawa pergi dan lenyap. Satu-satunya jalan adalah bergegas keluar dari tempat itu. Namun, mereka harus melewati Maze yang membingungkan dengan sejumlah monster mengerikan di sana. Beranikah para pelari berlari keluar dengan nyawa sebagai taruhannya? Atau, akankah justru lebih baik tetap berada di dalam menanti pencabut nyawa sambil berharap mujikzat datang tiba-tiba?

*****

Bagi penikmat novel trilogi The Hunger Games, aku sangat merekomendasikan novel karya peraih Kentucky Bluegrass Award 2011 ini. Meski di sini Maza bukanlah arena permainan, melainkan percobaan, tapi polanya tidaklah jauh berbeda dengan Hunger Games.


Thomas tetaplah anak bawang meski seorang gadis telah dikirim sehari setelahnya. Dia sadar dia adalah anak pintar dan dia sangat ingin menjadi pelari. Tentu saja keinginan itu sangat konyol mengingat dirinya baru beberapa minggu di Glade. Temannya, Chuck, adalah anak yang dikirim setelahnya. Chuck bertugas mengurus Thomas dan mereka segera menjadi teman baik. Thomas menyadari bahwa gerbang-gerbang Glade menentang ilmu gravitasi. Dia menemukan banyak keanehan dan istilah-istilah lain saat tinggal di sana.

Monday, July 29, 2013

The Story Girl

Judul: The Story Girl

Penulis: L.M. Montgomery
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Tebal: 368 halaman
Harga: Rp 40.000
Rating: ★★★★


Sinopsis:

"Aku suka jalanan, karena jalanan selalu membuatku bertanya-tanya apa yang ada di ujungnya," demikian si Gadis Pendongeng pernah berkata, lama berselang.

Musim semi itu, Beverly King juga tak tahu apa yang menanti di ujung jalan yang akan membawanya ke pertanian keluarga King di Pulau Prince Edward. Bev sudah sering mendengar ayahnya bercerita tentang rumah tempat dia dibesarkan; tentang pohon willow besar di gerbang, tentang kebun buah King yang terkenal, atau tentang para paman dan bibi.

Tapi merasakan sendiri semua keajaiban di tanah keluarga King ternyata jauh lebih menakjubkan. Apalagi hari-hari itu akan ia habiskan bersama sepupu dan teman-teman. Bev mencatat semua kejadian luar biasa sepanjang tahun itu, juga salah satu hal terpenting... bertemu si Gadis Pendongeng dan mendengar kisah-kisah yang diceritakannya dengan suara emasnya yang misterius. Kisah-kisah yang didongengkan dengan begitu indah sehingga membuat para pendengarnya terisap ke dalam jalinan kata, dan serasa bertemu muka dengan para pahlawan, putri, dewa, bahkan sang Kematian sendiri!

Review:


Pulau Prince Edward adalah salah satu pulau di Canada yang lebih dikenal dengan sebutan PEI. Pulau ini dijadikan sebagai setting cerita The Story Girl (Gadis Pendongeng) oleh L.M. Montgomery yang seorang penulis asal Canada. Setelah melihat foto suasana PEI masa sekarang, aku jadi lebih mudah menggambarkan detail kebun keluarga Kind dalam pikiranku. Pada awal cerita, Beverly King dan adik laki-lakinya, Felix, menceritakan semua hal yang mereka lihat di kampung halaman sang ayah. Mereka berdua merasa sangat familiar dengan keadaan disana karena sang ayah sudah bercerita sangat banyak dan hampir tidak ada yang berubah. Saat Bev mendeskripsikan semuanya, aku bisa membayangkannya dengan baik. Kalimat-kalimat yang ditulis tidaklah rumit dan aku sangat bersyukur karenanya!


Sunday, July 14, 2013

Crooked House

Judul: Crooked House
Pengarang: Agatha Christie
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2002
Jumlah Halaman: 288
Rating: ★★★★


Charles tidak menyangka bahwa rencananya untuk menikahi Sophia sepulang dari perang harus ditunda karena peristiwa yang tidak menyenangkan. Hanya sedikit yang dia ketahui tentang wanita itu, dia pintar dan tinggal di rumah bobrok. Ketika berada di rumahnya di London, alangkah terkejutnya dia sewaktu membaca berita:

"Tanggal 19 September, Three Gables, Swinly Dean, telah meninggal dunia, Aristide Leonides, suami tercinta dari Brenda Leonides, dalam usia delapan puluh delapan tahun."

Aristide Leonides adalah seorang pengusaha tua yang kaya raya dan bertangan licin. Dia tinggal satu atap dengan seorang istri, dua anak laki-laki, dua anak ipar, tiga cucu, dan satu adik ipar. Kebutuhan mereka semuanya dipenuhi tanpa masalah. Aristide jauh dari kata kikir! Tidak ada alasan bagi siapapun di rumah bobrok itu untuk membunuhnya. Bahkan para pelayan pun akan lebih untung jika Aristide hidup seribu tahun lagi.

Dua sisi sari sebuah pertanyaan -- dua pandangan yang berbeda -- manakah sisi yang benar...

Tampaknya semua keluarga Leonides mencurigai Brenda, istri kedua Aristide. Pernikahan mereka tidak disetujui oleh anak-anaknya, tapi toh tidak ada yang protes. Brenda terus menyangkal bahwa dia pelakunya, dia pun menyangkal adanya hubungan gelap dengan sang guru. Kejadian yang tidak enak ini dilanjutkan oleh hilangnya surat wasiat. Padahal semua orang di rumah ada di saat ayah mereka menyampaikan isi surat wasiat dan menandatanganinya.

Apakah Brenda benar-benar membunuh pria yang menyelamatkan hidupnya dari kesengsaraan? Apakah dia serakus itu sehingga mencuri surat wasiat?


Sunday, July 7, 2013

The Big Four

Judul: The Big Four
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Ny. Suwarni A.S.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2002


Detektif kecil asal Belgia, Hercule Poirot, adalah seorang detektif yang sangat terkenal. Dia lebih suka mengambil peran sebagai konsultan kepolisian Scotland Yard yang dipimpin oleh Inspektur Japp. Saat kawan lamanya, Hastings, berkunjung, ada seorang tamu tak diundang datang tanpa mengucapkan kata-kata yang berarti. Dia terus saja menyebut nama Poirot. Sambil menunggu keajaiban datang dari tamu tersebut, Poirot berdiskusi lagi tentang sebuah kelompok kejahatan yang menyebut dirinya sebagai Empat Besar.

Li Chang Yen adalah otak yang memegang kendali. Oleh karenanya dia kunamakan si Nomor Satu. Nomor Dua ditandai dengan huruf 'S' dengan dua garis di tengah-tengahnya - lambang dolar; disertai dua garis dan sebuah bintang. Nomor tiga seorang wanita berkebangsaan Prancis. Nomor Empat...
Kelompok yang paling ditakuti ini menyita perhatian Poirot. Tawaran di luar kota yang sebelumnya tak pernah dia terima, namun karena uang yang ditawarkan begitu besar pun ditolak olehnya. Poirot bersama dengan Hastings mulai mencari informasi tentang Li Chang Yen. Penelusurannya dimulai dari seorang penggila barang cina dan berlanjut pada sebuah kasus 'penyembelihan'.

Setelah tersangka dalam kasus itu terbukti tidak bersalah, kasus berikutnya di Paris menuntun Poirot pada Nomor Tiga. Kasus lenyapnya seorang ilmuwan ini menempatkan Poirot dan kawannya dalam bahaya. Ya! Sepintar-pintarnya Poirot, dia toh jatuh ke dalam jebakan juga. Beruntung keduanya berhasil melepaskan diri. Setibanya di London, sebuah lowongan kerja menuntun Poirot pada Nomor Dua. Kali ini dia terpaksa mengirim kawan tercintanya masuk ke dalam lubang buaya. Lagi-lagi mereka berdua sempat terjebak dalam taktik licik Empat Besar.

Masih ada beberapa kasus lagi dalam buku ini. Tentunya semua kasus tersebut berhubungan dengan kelompok misterius itu. Makin kebelakang, kasus-kasus yang diterimanya merupakan jebakan belaka! Bahkan satu-satunya informan tentang siapa Nomor Empat itu kehilangan nyawa sesaat setelah dia makan siang bersama Poirot.

Siapakah Nomor Empat? Apa Poirot berhasil melawan Empat Besar?