Showing posts with label ★★★★★. Show all posts
Showing posts with label ★★★★★. Show all posts

Thursday, June 9, 2016

Book Review: The Architecture of Love by Ika Natassa


Judul: THE ARCHITECTURE OF LOVE
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 14 Juni 2016
Format: Signed Paperback
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-2926-0
Harga: Rp 84.000
Rating: 5/5 stars
-----------------------------------------------------------

"Wah, lama nggak pernah ada review, eh, langsung ngasih lima bintang aja." Mungkin itu yang terbersit pada benak Anda yang pernah singgah beberapa kali di blog saya ini. Mungkin ada juga yang merasa "Ah, ini pasti ikut-ikutan gara-gara bukunya emang lagi ramai dibicarakan." Well, kalau Anda termasuk dua jenis itu, silahkan tidak melanjutkan membaca review ini. Sebab, beberapa orang mungkin akan menganggap saya berlebihan. Tapi, perlu Anda tahu, isi blog ini murni dari pemikiran dan perasaan saya. Tidak perlu lah ikut-ikutan apa kata orang.

Saya masih ingat betul malam itu sepulang kerja, saya leyeh-leyeh tidur di pangkuan Ama (sebutan saya untuk ibu saya) sambil scrolling timeline Twitter. Tiba-tiba, ada salah satu rekan blogger buku saya yang me-retweet salah satu tweet Ika Natassa dan saya somehow penasaran dengan sosok penulis yang sering saya dengar namanya, tapi belum pernah sekalipun karyanya saya baca. Iya, saya ini picky reader. Buku yang berbau misteri, ending yang menggantung, kekerasan, lari-larian, kebanyakan mendapat respon baik dari saya. Oleh karena itu, saya tidak terlalu suka buku karya penulis Indonesia. Hanya sedikit yang saya baca. Kembali ke akun Twitter Ika, di bagian atas sendiri saya langsung disuguhi ini:



Iseng, saya membacanya. "Wah, lucu ini. Alurnya ditentukan pembaca," pikir saya waktu itu. Sayang sekali saya baru tahu dan tidak bisa ikut berpartisipasi. Tapi, kebanyakan pilihan saya sesuai sih sama hasil poling. Tweet by tweet saya baca habis saat itu juga. Kesannya? Luar biasa bikin penasaran. Ada perasaan I WANT MORE but I had to wait for the book. Entah apa yang membuat saya kepincut. Faktor utama sih sepertinya gaya bahasa ya. Sudah lama saya rindu bacaan dengan gaya bahasa seperti Ika. Buku yang banyak saya baca itu terjemahan. Tahu sendiri lah bagaimana hasilnya. Sekalinya ingin baca bacaan ringan, eh, bahasanya terlalu "gaul" seperti yang pernah dikomplain beberapa penerjemah di salah satu grup di Facebook. Gaya bahasa Ika ini pas lah. Tidak terlalu kaku, kalimatnya pas (maklum, profesi sebagai editor bikin saya bawel), dan banyak kalimat berbahasa Inggris yang quotable banget (isn't it what you're looking for, dear Z generation?). Jelas saja hal itu membuat saya memutuskan untuk ikut pre-order yang dilaksanakan 1 Juni lalu.

Saturday, April 9, 2016

Book Review: The Alpha Girl's Guide by Henry Manampiring


the alpha girl's guide henry manampiring gagas media

Judul: THE ALPHA GIRL'S GUIDE
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Gagas Media
Terbit: November 2015
Format: Paperback
Tebal: 253 halaman
ISBN: 9789797808488
Harga: Rp 65.000
Rating: 5/5 stars

--------------------------------------------------------------------------------------------------

To be honest, aku belum pernah baca buku motivasi (kecuali kamu menganggap buku-buku Mitch Albom termasuk motivasi). Sebab, aku merasa buku motivasi itu membosankan dan kebanyakan menggurui. Siapa sih yang suka digurui? Apalagi anak zaman sekarang kan kritis banget. Mereka pasti punya jawaban untuk semua jawaban (entah benar atau salah). Tapi, saat baca buku Om Piring ini, aku sama sekali nggak merasa digurui. It's true. Aku mem-follow Om Piring di Ask.fm dan aku personally suka jawaban-jawabannya. Agak ''slengekan'' mungkin? Padahal Om Piring bukan generasi Z, tapi dia cool banget. Aku selalu rela stalking Ask.fm-nya setiap membuka aplikasi itu (kecuali jawaban tentang jam tangan ya). Well, enough praising, let's get to what's inside the book!

''Dalam hidup ini tidak ada yang pasti.'' [halaman 24]
Sepertinya quote itulah yang selalu aku iya-iya kan. Dalam The Alpha Girl's Guide, Om Piring ngasih banyak banget quote yang relatable. Thanks to his followers yang sering bertanya tentang kegalauan perempuan, Om Piring akhirnya bisa menulis buku yang berisi rangkuman jawaban dan sekaligus menjadi guide untuk menjadi seorang Alpha Female. Bukan guide yang paten sih. Tentu aku nggak bisa melaksanakan semua himbauan Om Piring dalam buku itu. Tapi, at least tulisannya bikin pikiranku terbuka (isn't that the book's goal?) dan introspeksi diri.

Mulai dari pentingnya pendidikan sampai pernikahan, semua dibahas tuntas. Oleh karena itu, kalau kamu jadi temanku di Goodreads (kalau belum, add ya!), kamu mungkin notice kalau aku mulai membaca buku ini sejak Januari. Wow, kok lama? Well, membaca buku ini memang harus diresapi (bagiku sih). Di awal buku, Om Piring juga menghimbau pembacanya buat kritis, nggak menelan mentah-mentah tulisannya. I did that dan hasilnya ya sekitar dua bulan proses membaca itu hehehe. Sering kali aku merasa, "Lho, nggak gini harusnya," atau "Ah, nggak juga." I don't blame him tho. Tapi, pengalaman membaca yang seperti itu ternyata sangat menarik. Biasanya kan pembaca cuma bisa fangirling tokoh utama atau nge-bully villain.

Selain itu, bahasa yang dipakai benar-benar enteng, tapi nggak picisan (tahu kan picisan itu yang gimana?). Waktu baca The Alpha Girl's Guide tuh kayak "duh, aku keren banget." Yap, kadang aku pernah merasa nggak pede menenteng kemana-mana buku yang harus aku baca. Sayangnya, buku ini bikin aku menoleh ke belakang. Mengingat-ingat kejadian yang sudah terjadi. Mulai dari alasanku nggak pernah mem-bully orang (berdasarkan fisik) sampai sikapku ke orang ketiga. That's why aku nggak mau terlalu panjang menulis review buku ini. Bawaannya pengin curhat, Sob!

Overall, aku sangat merekomendasikan buku ini buat semua orang yang mau membaca. Nggak cuma cewek ya. Buku ini mungkin bisa menginspirasi cowok-cowok juga (penulisnya aja cowok lho). Aku bersyukur bisa membahas buku ini di halaman DetEksi Jawa Pos (sekarang berubah nama jadi Zetizen) pada Desember tahun lalu. Aku berharap halaman itu menginspirasi banyak orang buat membaca sih. Pssst... Yang mau baca, coba check website BukaBuku. Lagi ada diskon besar tuh!

"Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people." - Henry Thomas Buckle [halaman 62] 

Tuesday, December 1, 2015

Book Review: Five On A Treasure Island by Enid Blyton

Title: FIVE ON A TREASURE ISLAND
(THE FAMOUS FIVE #1)
Author: Enid Blyton
Publisher: Hodder Children's Books
Published: June 2001
ISBN: 978-0340796146
Rating: 5/5

-----------------------------------------------

I remember my mom offered me the famous five series years ago when I was a kid. At that time, I have traveled to a lot of Conan Doyle's world and Agatha Christie's. Maybe that was why I didn't like famous five. It looked like a piece of cake. Too sweet. So, my mom gave away her famous five's collections.

Few days ago, my lecture gave me an assignment to read a detective or crime work by a woman author. Of course I chose Agatha Christie, automatically. I have a bunch of her collections in my room and I don't need to re-read them again, maybe just skimming. But, my friend suggested the famous five by Enid Blyton. Well, I think I'd like to read it. Famous five series only consists of 21 books, so why not? Since it's children's book, I didn't find any difficulty in understanding the words. Even though some words, or the writing style, is a little bit weird for me. I don't know if it's because it's a British work or because it's an old work. Overall I really enjoyed this book.

On this book, I get to know the characters. There are Julian the oldest, Dick, and Anne. They are siblings who are thirst of adventure. One holiday, their parents suggest them to visit their cousin, Georgina who lives at Kirrin Bay. Unfortunately, Georgina, who prefers to be called as George, is a difficult person. She likes to spend times by herself. She almost look like her father who hates to be disturbed. Unlike them, the mother, Aunt Fanny, is very lovely and understanding. She hopes Julian, Dick, and Anne can change her daughter's behavior.


Of course they do! They're finally getting along and George even bring them to her private island. Near the island, there is a shipwreck which belongs to George's great-great-great grandfather. The four children take an interesting box from the captain cabin and find a map which shows where the ingots--the gold--is hidden. They start their adventure under the castle. But, they have to deal with some men who are chasing the gold too! Those men even kidnap Julian and George. Will they be alright?

Sunday, April 26, 2015

Book Review: The Last Song by Nicholas Sparks

Title: THE LAST SONG
Author: Nicholas Sparks
Publisher: Grand Central Publishing
First media tie-in mass market edition, March 2010
Pages: 463
ISBN: 978-0-446-57096-1
Price: Rp 106.000 (Periplus Online)
Rating: 5/5 stars

SEVENTEEN-year-old Veronica "Ronnie" Miller's life was turned upside-down when her parents divorced and her father moved from New York City to Wrightsville Beach, North Carolina. Three years later, she remains angry and alienated from her parents, especially her father...until her mother decides it would be in everyone's best interest if she spent the summer in Wilmington with him. Ronnie's father, a former concert pianist and teacher, is living a quiet life in the beach town, immersed in creating a work of art that will become the centerpiece of a local church.The tale that unfolds is an unforgettable story of love on many levels--first love, love between parents and children -- that demonstrates, as only a Nicholas Sparks novel can, the many ways that love can break our hearts...and heal them.
I think this is the first Sparks' book that I have ever read. How is it? GREAT! I can't think about anything wrong except I had to imagine Ronnie in my head as Miley Cyrus. Yes, I have watched the movie. But I hadn't finished yet. I'm sure I'm not the only one who falls in love with this book. But I dare to give this 5 out of 5 stars. I'll let you know why.


Wednesday, October 30, 2013

To Kill A Mockingbird

Judul: TO KILL A MOCKINGBIRD
Copyright © 1960 by Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Qanita; Cetakan Ke-VI, April 2009
Tebal: 540 Halaman; ISBN: 978-979-3269-78-8

Jane Flinch, atau yang biasa dipanggil Scout, harus berurusan dengan teman-temannya di sekolah, tetangga yang sangat menyebalkan, bahkan sepupunya sendiri, saat ayahnya ditunjuk sebagai pengacara Tom Robinson, seorang kulit hitam. Bersama dengan kakaknya, Jem, dia berusaha untuk tidak mengindahkan cemooh-cemooh yang terus berdatangan. Aku tidak bisa membayangkan betapa kacaunya masa itu. Masa dimana perbedaan ras, gender, usia, dan kelas masih sangat tinggi. Aku pun tidak bisa berhenti takjub dengan karya Harper Lee yang fenomenal ini.

Kisah dimulai pada musim panas sebelum Scout memulai pendidikannya di bangku sekolah dasar. Saat itu dia, Jem, dan keponakan tetangga, Dill, menghabiskan waktu bersama. Hal yang paling mereka gemari adalah 'mengganggu' Boo Radley. Banyak desas-desus mengapa Boo tidak pernah keluar rumah. Tiga anak tersebut bermain dengan imajinasi mereka dan tak lupa dengan keusilannya. Entah mengapa aku merasa bosan membaca bagian ini. Terjemahannya terkadang 'berlepotan' atau memang disengaja seperti itu agar tidak menghilangkan kesan klasik dari buku aslinya.

The story gets intens saat Mr. Flinch harus menghadapi ancaman dari berbagai pihak atas kasus Tom Robinson. Si negro itu dituduh mengotori seorang gadis dari keluarga Ewell, yang dikenal dengan keluarga paling jahat di Mayland County. Scout berusaha keras untuk mencerna mengapa semua orang memberatkan Tom, padahal Mr. Ewell juga bukan orang yang patut mereka kasihani. Warna kulit. Itulah yang membedakan. Scout dan Jem dibesarkan tanpa memandang latar belakang orang lain, apalagi warna kulitnya. Dan sepertinya Bibi Alexandra tidak setuju dengan hal ini.


Friday, July 5, 2013

Mahogany Hills

Judul: Mahogany Hills
Pengarang: Tia Widiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 344
Harga: Rp 58.000
Rating: ★★★★★


Paras adalah lulusan S2 sebuab universitas di London. Dia pulang ke Indonesia untuk menikah dengan anak dari teman ayahnya, Jagad. Mereka belum saling mengenal sebelumnya. Pertunangan dilakukan tidak lama sekembalinya Paras dan pernikahan berlangsung tiga hari setelahnya. Akibat pernikahan yang dijodohkan ini pun, Paras terpaksa tinggal di Mahogany Hills, sebuab rumah dua lantai yang cantik dan terletak di daerah terpencil di Sukabumi. Meski jauh dari manapun, Paras sangat menyukai pemandangan di sana. Udara sejuk, kebun buah, dan bukit di belakang rumah. Paras harus tinggal di rumah besar ini berdua dengan suami barunya sampai resor yang dikerjakan Jagad selesai. Dia sangat tidak sabar untuk memulai kehidupan rumah tangganya.

Berbeda jauh dengan istrinya, Jagad suka bermalas-malasan menanggapi perkataan istrinya itu. Dia memang sengaja menjawab dengan sinis dan tanpa hati. Meski mereka tidur satu ranjang tapi mereka menempati dua ujung tempat tidur yang berbeda. Secara sah mereka memang suami istri, namun dari hati, mereka masih sepasang pengantin baru yang belum mengenal satu sama lain. Memang inilah yang diinginkan Jagad. Dia tidak bermaksud membuat Paras memilikinya. Jika tidak karena ibunya, dia tidak akan berada di sini dengan perempuan yang dia pikir ingin menikah karena ingin terus mempertahankan gaya hidupnya.

Usaha Paras untuk membuka hati Jagad tak kunjung membuahkan hasil. Akhirnya dia pun mendiamkan Jagad seperti yang Jagad lakukan padanya. Sikap ini ternyata membuat Jagad merasa kesepian. Pria mapan ini berusaha untuk tidak menghiraukannya, tapi tidak bisa. Keberadaan Paras di rumahnya tanpa bisa dia sentuh membuat Jagad menderita. Satu demi satu curahan hati Jagad keluar saat Paras mencampuri urusannya, tentu saja kata-kata itu keluar dengan nada yang sinis. Percekcokan pun terjadi. Keduanya harus berurusan dengan sesorang dari kehidupan lama masing-masing. Perasaan bersalah tak bisa dibendung lagi.

Akankah pernikahan ini membaik atau malah berakhir dengan perceraian? Siapakah orang-orang yang menghantui kehidupan baru mereka di Mahogany Hills?

Monday, May 13, 2013

Book Review: The Book With No Name by Anonymous

Judul: The Book With No Name (Bourbon Kid #1)
Pengarang: Anonymous
Penerbit: Penerbit Kantera
Tahun Terbit: 2011
Halaman: 493
Harga: Rp 77.000
Rating: 



Sinopsis:
Santa Mondega, kota para pendosa, akan segera berubah menjadi neraka. Karena di sana terdapat sebuah batu biru misterius: Mata Rembulan. Dan, Bocah BourbonSang Malaikat Kematianyang akan menjadi eksekutornya. Di Santa Mondega juga terdapat sebuah Buku Tanpa Judul yang ditulis oleh seseorang Tanpa Nama. Buku itu akan membawa kematian bagi semua yang membacanya. Tetapi, hanya buku itu yang dapat mengakhiri semua kekacauan tersebut. Semua rahasia tersimpan di dalamnya. Namun, jika masih ingin bernafas, apa pun yang kalian lakukan, jangan pernah kalian membacanya.
"Hanya kemurnian hati yang mampu memahami halaman demi halaman buku ini.
Setiap halaman yang kau buka, setiap bab yang kau baca,
akan membawamu semakin dekat pada akhir.
Tidak setiap orang akan berhasil. Banyak plot cerita dan gaya bahasa yang berbeda,
mungkin akan memusingkan dan membingungkan.
Dan sementara kau sibuk mencari kebenaran, ternyata ia ada tepat di depanmu.
Kegelapan akan datang, bersama kejahatan yang luar biasa.
Dan mereka yang telah membaca buku ini tidak akan pernah melihat cahaya lagi."

Review:
Dari review yang saya dapat di Goodreads, saya sebenarnya agak wegah untuk membaca buku ini. Banyak yang bilang bahwa buku ini membosankan dan hanya seru di bagian akhir. Tapi ketertarikan saya akan judul dan covernya, mendorong saya untuk tetap membaca. Wah, baru saja selesai bab pertama, saya sama sekali tidak merasa bosan! Justru saya dibuat semakin penasaran. Buku ini terdiri dari 65 bab dan setiap babnya membahas tentang tokoh yang berlainan. Setiap babnya tidak terlalu bertele-tele dan membuat anda, mungkin, terperangah dengan fakta-fakta yang tersembunyi. Penulis (dalam hal ini mungkin juga penerjemah turut andil) sangat pintar dalam menuliskan cerita karena saya merasa setiap kisah yang dituliskan bisa mengalir lancar dalam kepala saya dan saya bisa membayangkan tiap kejadian tanpa merasa ada kejanggalan.

Saturday, April 27, 2013

Book Review: The Casual Vacancy by J.K. Rowling

Judul: The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)
Pengarang: J.K. Rowling
Penerbit: Qanita
Tahun Terbit: 2012
Halaman: 593
Harga: Rp 159.000 (disc spesial April 30% di Togamas)
Rating: ★★★★★

Sinopsis:

Ketika Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru awal empat puluhan, penduduk kota Pagford sangat terkejut. Dari luar, Pagford terlihat seperti kota kecil yang damai khas Inggris, dengan Alun-alun, jalanan berbatu, dan biara kuno. Tetapi, di balik wajah nan indah itu, tersembunyi perang yang berkecamuk. Si kaya melawan si miskin, remaja melawan orangtua, istri melawan suami, guru melawan murid... Pagford tak seindah yang dilihat dari luar. Dan kursi kosong yang ditinggalkan Barry di jajaran Dewan Kota menjadi pemicu perang terdahsyat yang pernah terjadi di kota kecil itu. Siapakah yang akan menang dalam pemilihan anggota dewan yang dikotori oleh nafsu, penipuan, dan pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga ini?

Review:
Aroma kertas, yang mengingatkan saya pada tumpukan buku Harry Potter, semakin menambah semangat untuk segera menyelesaikan buku ini. Alasan saya membelinya karena saya termasuk salah satu penggemar dari J.K. Rowling dan sama seperti alasan pembaca lain di hampir seluruh dunia, saya sangat penasaran dengan karya Rowling yang sangat jauh dari Harry Potter. Ya, saya sangat sadar dengan tulisan bacaan untuk dewasa di cover belakangnya, namun hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk tahu lebih jauh tentang keadaan kacau setelah kematian Barry Fairbrother.