Showing posts with label Mizan Fantasi. Show all posts
Showing posts with label Mizan Fantasi. Show all posts

Friday, January 16, 2015

Book Review: Four by Veronica Roth

Judul: FOUR: A Divergent Collection
Penulis: Veronica Roth
Penerjemah: Esti Buduhabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan I, Desember 2014
ISBN: 978-979-433-859-9
Tebal: 288 halaman
Harga: Rp 59.000
Four: A Divergent Story Collection (Divergent, #0.1 - 0.4)

Dua tahun sebelum Beatrice Prior menentukan takdirnya, putra pemimpin Abnegation melakukan hal yang sama. Tobias Eaton berkhianat dari Abnegation, berpindah ke Dauntless, dan berubah menjadi Four. Mencari kebebasan dan kehidupan yang bebas dari masa lalu. Ternyata di Dauntless pun Four masih meragukan pilihannya. Apalagi secaratak sengaja dia mengetahui persekongkolan antara pemimpin Dauntless dan Erudite. Sementara, sang ibu yang ternyata masih hidup menginginkannya bergabung dengan factionless. Haruskah Four kembali berkhianat? Pantaskah faksi 'tanpa pamrih' yang ternyata menyembunyikan monster sekejam Marcus Eaton diselamatkan? Four dihadapkan pada pilihan sulit. Mungkinkah pengkhianatan memunculkan kebebasan? Four: A Divergent Collection, mengisahkan perjalanan Divergent Trilogy dari sudut pandang Tobias Eaton. Dengan bonus tiga kisah eksklusif bersama Tris. Kisah pelengkap Divergent Trilogy yang romantis dan penuh aksi.

Sejak awal, Four is my favorite character. Yap, bukan Tris. Selama membaca trilogi Divergent, bisa dibilang aku selalu merasa semangat saat Four muncul. Nah, bagi pembaca trilogi Divergent yang sepertiku, kalian WAJIB membaca buku ini. Sosok Four yang selama ini misterius akan dibuka habis-habisan. But in a good way of course (thanks God!). Awalnya, aku takut buku ini malah bikin sosok Four terkesan nggak-banget alias bikin il-feel. Tapi, ketakutanku itu nggak beralasan kok.

Sunday, November 24, 2013

Insurgent

INSURGENT
Copyright © 2012 by Veronica Roth
Penerjemah: Nur Aini; Penyunting: Esti Budihabsari
Penerbit: Mizan Fantasi; Cetakan II, Mei 2013
Tebal: 551 Halaman; ISBN: 978-979-433-737-0
Harga: Rp 44.250 (di TBMO); Rating: 2/5 stars

Kereta itu membawa mereka menjauh. Menjauh dari kekacauan yang dilakukan oleh teman-teman mereka sendiri, di bawah pengaruh simulasi buatan Erudite. Tris baru saja kehilangan orang tuanya. Caleb adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki. Sampai kapan kekacauan ini menelan korban? Dia tahu mereka tak akan aman.

Veronica Roth mengajak pembaca untuk mengenal lebih jauh masing-masing fraksi. Setelah menjauh dari pembantaian di wilayah Abnegation, Tris, Tobias, Caleb, Peter, dan Markus mencari perlindungan di markas besar Amity. Faksi itu menerima mereka dengan satu syarat: dilarang membuat onar atau harus dikeluarkan. Setelah beberapa hari memulihkan keadaan, serombongan truk Erudite datang. Mereka mencari para pelarian. Seberapa kerasnya Tris dan kawan-kawannya berpura-pura menjadi warga Amity, mereka tetap ketahuan dan segera melarikan diri. Tris, Tobias, Caleb, dan Susan terpisah dari yang lain. Mereka naik kereta api dan betapa terkejutnya saat ujung-ujung pistol menghadap mereka. Edward!

Tris dan Tobias pergi dari satu faksi ke faksi lainnya, termasuk markas factionless. Satu-satunya tempat yang aman yaitu wilayah Abnegation. Disana para Dauntless setia dan factionless menyusun strategi untuk menggulingkan kekuasaan Erudite. Tapi Tris merasa ini salah. Membunuh siapa saja yang ada di Erudite bukanlah hal yang tepat. Lagi pula, dia harus meneruskan misi ibunya untuk mendapatkan file itu. Misi yang membuatnya mengkhianati Tobias. Misi yang membuatnya dianggap sebagai pengkhianat faksi. Kenapa Tobias begitu tidak mempercayainya? Ya, dia hanya perlu satu ketukan, untuk diingatkan mengapa dia mencintai Tris.

Saturday, October 12, 2013

The Death Cure: Kembali Ke Maze

THE DEATH CURE (Maze Runner #3)
Copyright: © 2011 By James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penerbit: Mizan Fantasi, Cetakan I, Februari 2012
Tebal: 492 Halaman; ISBN: 978-979-433-678-6
Rating: ★★★★

"Mungkin ini hanya satu lagi permainan untuk melihat otak-otak mereka bereaksi, dan mengamati perasaan mereka." [Hal. 55]

Thomas menjadi seorang buron. Rasanya sulit mempercaya bahwa WICKED is good seperti apa yang Teresa yakini. Keadaan jauh sangat tidak terkendali ketika Thomas, Brenda, Jorge, Minho, dan Newt berhasil kabur dari markas besar WICKED menuju kota Denver. Mereka bertemu dengan mantan glader yang ternyata masih hidup. Mereka berkomplot dengan sebuah organisasi rahasia yang dijuluki Tangan Kanan. Keadaan semakin kacau ketika Thomas harus membunuh temannya sendiri. Jonson dari WICKED juga tak berhenti mengincarnya dan menginginkan otaknya!

Begitu banyak aksi mendebarkan yang disuguhkan oleh James Dashner dalam buku ketiga The Maze Runner ini. Kata kunci dari trilogi ini adalah maze dan pelari. Sepertinya Dashner berpatokan pada kedua kata kunci tersebut. Tanpa ada dinding tinggi yang dirambati oleh tanaman, markas besar WICKED dirancang layaknya sebuah maze. Lorong-lorong tanpa jendela dan penerangan yang minim menjadi setting paling dominan di sini. Sedangkan Thomas dan kawan-kawannya menghabiskan banyak waktu di markas, berlari dan terus berlari, menghindari para crank dan penjaga markas.

Terlepas dari hal-hal yang mendebarkan tersebut, aku merasa sosok Thomas semakin hari semakin bodoh, seperti yang sudah aku bahas di review buku kedua, The Scorch Trial. Bodoh yang aku maksud adalah sering melamun, terlalu mengingat masa lalu, dan bertindak ceroboh. Kejadian yang paling bodoh yang dilakukan Thomas ketika di Denver sehingga membuatku ikut geregetan adalah ketika Thomas, Minho, Brenda dan Jorge berada di cafe. Seorang petugas pemeriksa pengidap Flare menyuruh semua orang keluar saat dia dan teman-temannya mendapati ada seorang lelaki yang sudah mengidap Flare berkeliaran. Brenda sudah menyuruh Thomas segera keluar, tapi Thomas hanya terdiam, tertegun, dan memperhatikan para petugas bekerja. Sebagai seseorang yang sedang menyamar dan membaur, aksi Thomas benar-benar bodoh!

Setelah mendekati akhir kisah, aku bertanya-tanya bagaimana orang-orang menganggap trilogi The Maze Runner ini semakin jelek? Dari segi cerita, aku menganggap The Death Cure sama bagusnya dengan The Maze Runner dengan caranya sendiri. Buku ini lebih banyak menyuguhkan pertarungan dan pembuatan strategi yang lebih banyak daripada buku-buku sebelumnya. Buku ini juga membuat kita ikut menerka kelompok mana yang bisa dipercaya. Meski ada beberapa kalimat yang rasanya kurang tepat di beberapa halaman awal, aku berani memberikan buku ini rating empat bintang.

Tentang Penulis:
James lahir dan dibesarkan di Georgia, namun sekarang dia tinggal di Rocky Mountains bersama keluarganya. Dia dikaruniai empat orang anak, yang mana banyak orang bilang empat terlalu banyak tapi James menikmatinya. James pernah belajar akuntansi dan bekerja di bidang keuangan, tapi dia sudah menulis selama beberapa tahun. Di waktu luangnya, James suka membaca, menonton film dan acara tv, ski, dan membaca (lagi). Dia sangat bersyukur atas apa yang telah dia raih dan merasa bahwa dia adalah laki-laki paling beruntung di dunia.

Meet him on: [ Goodreads ] [ Twitter ] [ Website ]

Saturday, September 28, 2013

The Scorch Trial: Surga Yang Aman


Judul: The Scorch Trial (Maze Runner #2)
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Meidyna Arrisandi
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2012

Sinopsis:
Selama ini Thomas keliru. Ada dua Maze. Namun, berkebalikan dengan Maze yang dihuninya, Maze lain didiami oleh sekelompok anak perempuan, yang dikenal sebagai Grup B. Bahkan, Teresa yang disangkanya hilang, ternyata justru bergabung di sana. Kini Grup B menantinya dengan tugas khusus: membunuh Thomas! Namun, bukan kematian yang membuatnya jerih, melainkan pengkhianatan Teresa, gadis yang diam-diam dicintainya.

Sementara itu, jumlah para Glader berangsur berkurang. Keadaan di luar Maze lebih mengerikan dari yang mereka duga. Bola baja yang muncul tiba-tiba dari kegelapan, badai gurun pasir yang merajam habis sampai ke tulang, hingga gerombolan Crank haus darah, semakin menciutkan hati mereka. Namun, mereka terus melangkah maju, demi menemukan jawaban dari misteri selama ini, demi menemukan jalan pulang menuju rumah dan keluarga.

Semua kesulitan dan kengerian di Maze barulah awal dari serangkaian proses kejam dan mendebarkan. Berlanjut di Scorch, percobaan baru telah menghadang. Untuk bisa lolos, kali ini mereka tak boleh sekadar bermodal nekat. Diperlukan kecerdikan dan ketajaman insting karena musuh-musuh mereka bersembunyi rapat di balik dinding ilusi.

Friday, September 6, 2013

Radiance (Riley Bloom #1)

Judul: Radiance
Penulis: Alyson Noel
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 172
Harga: Rp 34.000


... perasaan lama itu melandaku lagi. Perasaan yang menyebabkan tenggorokanku panas dan tercekat ... mataku perih ... dipenuhi kerinduan teramat sangat ... dahsyat ... aku bersedia melakukan apa saja supaya bisa kembali. Kembali ke alam fana. Kembali ke tempat aku semestinya berada.

Sejak kecelakaan mobil yang menimpa dirinya dan keluarganya, Riley telah menyeberangi jembatan menuju kehidupan barunya bersama kedua orangtua dan anjing Labradornya, Buttercup. Mereka pun tinggal di sebuah tempat yang disebut Sini, di mana waktu selalu Kini.

Namun, setelah Dewan memanggilnya, Riley pun sadar bahwa kehidupan di Sini dan Kini bukan berarti bisa selalu santai seperti yang dibayangkan. Waktu bermain Riley sudah selesai, karena Dewan telah memberikan tugas kepada Riley, sebagai seorang Penangkap Jiwa. Dan Bodhi, seorang cowok yang tampak misterius menjadi pembimbingnya. Bersama Bodhi, Riley pun diperintahkan kembali ke bumi untuk melakukan tugas pertamanya.

Tuesday, August 27, 2013

I'm Dangerous. I'm DIVERGENT.

Judul: Divergent

Penulis: Veronica Roth
Penerbit: Mizan Fantasy
Tahun Terbit: 2012 
Jumlah Halaman: 548
Harga: Rp 59.000

Aku dibawa menuju dunia dimana manusia dikelompokkan menjadi lima faksi sesuai dengan sifatnya; Amity yang menyukai kedamaian, Candor yang mengedepankan kejujuran, Erudite yang menganggap ilmu adalah segalanya, Abnegation yang mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, dan Dauntless yang tak kenal takut. Pengelompokan ini mengingatkanku pada kisah Harry Potter. Ketika menginjak usia 16 tahun, mereka berhak menentukan faksi mana yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Hidup sebagai seorang Abnegation membuat Beatrice terpaksa meninggalkan keluarganya untuk menjadi seorang Dauntless.


Beatrice adalah satu-satunya anak pindahan dari Abnegation. Dia mendapatkan teman-teman yang baik selama masa inisiasi, Christina, Will, dan Al. Tris, nama baru Beatrice, adalah yang paling lemah di babak pertama, tapi prestasinya di babak kedua membuat teman-temannya berubah, termasuk Al. Dia bersama Peter, yang berhasil menusuk mata pemenang babak pertama, berusaha melempar Tris ke jurang. Aksi mereka berhasil dihentikan oleh Four, salah satu instruktur inisiasi. Sikap dingin Four tidak menghentikan rasa tertarik Tris kepadanya. Hubungan mereka semakin dekat di luar masa inisiasi dan Four selama ini menyimpan banyak hal yang mengejutkan!

Kisah Tris semakin memanas ketika masa inisiasi berakhir. Pada suatu malam, semua anggota Dauntless berbondong-bondong mengambil sejata, naik ke atas kereta, dan membunuh petinggi pemerintahan dari faksi Abnegation. Sepertinya semua orang tidak sadarkan diri, kecuali dirinya dan Four! Dalang dibalik pemberontakan itu pun terkuak. Tris bersama dengan beberapa Abnegation yang tersisa, termasuk ayahnya, berjuang untuk merusak sistem yang membuat orang-orang Dauntless itu tidak sadar. Selama perlawanan itu, dia harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.


Wednesday, July 31, 2013

The Maze Runner

Judul: The Maze Runner
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 526
Rating: ★★★★



Sinopsis:
Setiap hari mereka harus berlari. Menyusuri lorong Maze yang berkelok-kelok di luar dinding Glade, tempat mereka tinggal, hingga senja tiba. Dan, ketika kegelapan turun, para pelari harus sudah ada di dalam Glade. Ya, pada saat itulah Griever, monster buas dan ganas, tak segan menerkam siapa saja yang masih berkeliaran di dalam Maze.

Mereka bukan sekadar berlari. Itu cara mereka bertahan hidup. Dengan berlari, mereka berharap menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk itu. Keluar untuk kembali pulang menjumpai keluarga mereka. Namun, lintasan Maze selalu berubah dari hari ke hari. Rasanya, mustahil bisa keluar dari tempat itu.

Suatu hari pintu batu pelindung mereka tak lagi turun menurup. Griever-griever itu bisa menyeruduk masuk kapan saja. Setiap hari, satu anak dibawa pergi dan lenyap. Satu-satunya jalan adalah bergegas keluar dari tempat itu. Namun, mereka harus melewati Maze yang membingungkan dengan sejumlah monster mengerikan di sana. Beranikah para pelari berlari keluar dengan nyawa sebagai taruhannya? Atau, akankah justru lebih baik tetap berada di dalam menanti pencabut nyawa sambil berharap mujikzat datang tiba-tiba?

*****

Bagi penikmat novel trilogi The Hunger Games, aku sangat merekomendasikan novel karya peraih Kentucky Bluegrass Award 2011 ini. Meski di sini Maza bukanlah arena permainan, melainkan percobaan, tapi polanya tidaklah jauh berbeda dengan Hunger Games.


Thomas tetaplah anak bawang meski seorang gadis telah dikirim sehari setelahnya. Dia sadar dia adalah anak pintar dan dia sangat ingin menjadi pelari. Tentu saja keinginan itu sangat konyol mengingat dirinya baru beberapa minggu di Glade. Temannya, Chuck, adalah anak yang dikirim setelahnya. Chuck bertugas mengurus Thomas dan mereka segera menjadi teman baik. Thomas menyadari bahwa gerbang-gerbang Glade menentang ilmu gravitasi. Dia menemukan banyak keanehan dan istilah-istilah lain saat tinggal di sana.