Showing posts with label Gagas Media. Show all posts
Showing posts with label Gagas Media. Show all posts

Saturday, April 9, 2016

Book Review: The Alpha Girl's Guide by Henry Manampiring


the alpha girl's guide henry manampiring gagas media

Judul: THE ALPHA GIRL'S GUIDE
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Gagas Media
Terbit: November 2015
Format: Paperback
Tebal: 253 halaman
ISBN: 9789797808488
Harga: Rp 65.000
Rating: 5/5 stars

--------------------------------------------------------------------------------------------------

To be honest, aku belum pernah baca buku motivasi (kecuali kamu menganggap buku-buku Mitch Albom termasuk motivasi). Sebab, aku merasa buku motivasi itu membosankan dan kebanyakan menggurui. Siapa sih yang suka digurui? Apalagi anak zaman sekarang kan kritis banget. Mereka pasti punya jawaban untuk semua jawaban (entah benar atau salah). Tapi, saat baca buku Om Piring ini, aku sama sekali nggak merasa digurui. It's true. Aku mem-follow Om Piring di Ask.fm dan aku personally suka jawaban-jawabannya. Agak ''slengekan'' mungkin? Padahal Om Piring bukan generasi Z, tapi dia cool banget. Aku selalu rela stalking Ask.fm-nya setiap membuka aplikasi itu (kecuali jawaban tentang jam tangan ya). Well, enough praising, let's get to what's inside the book!

''Dalam hidup ini tidak ada yang pasti.'' [halaman 24]
Sepertinya quote itulah yang selalu aku iya-iya kan. Dalam The Alpha Girl's Guide, Om Piring ngasih banyak banget quote yang relatable. Thanks to his followers yang sering bertanya tentang kegalauan perempuan, Om Piring akhirnya bisa menulis buku yang berisi rangkuman jawaban dan sekaligus menjadi guide untuk menjadi seorang Alpha Female. Bukan guide yang paten sih. Tentu aku nggak bisa melaksanakan semua himbauan Om Piring dalam buku itu. Tapi, at least tulisannya bikin pikiranku terbuka (isn't that the book's goal?) dan introspeksi diri.

Mulai dari pentingnya pendidikan sampai pernikahan, semua dibahas tuntas. Oleh karena itu, kalau kamu jadi temanku di Goodreads (kalau belum, add ya!), kamu mungkin notice kalau aku mulai membaca buku ini sejak Januari. Wow, kok lama? Well, membaca buku ini memang harus diresapi (bagiku sih). Di awal buku, Om Piring juga menghimbau pembacanya buat kritis, nggak menelan mentah-mentah tulisannya. I did that dan hasilnya ya sekitar dua bulan proses membaca itu hehehe. Sering kali aku merasa, "Lho, nggak gini harusnya," atau "Ah, nggak juga." I don't blame him tho. Tapi, pengalaman membaca yang seperti itu ternyata sangat menarik. Biasanya kan pembaca cuma bisa fangirling tokoh utama atau nge-bully villain.

Selain itu, bahasa yang dipakai benar-benar enteng, tapi nggak picisan (tahu kan picisan itu yang gimana?). Waktu baca The Alpha Girl's Guide tuh kayak "duh, aku keren banget." Yap, kadang aku pernah merasa nggak pede menenteng kemana-mana buku yang harus aku baca. Sayangnya, buku ini bikin aku menoleh ke belakang. Mengingat-ingat kejadian yang sudah terjadi. Mulai dari alasanku nggak pernah mem-bully orang (berdasarkan fisik) sampai sikapku ke orang ketiga. That's why aku nggak mau terlalu panjang menulis review buku ini. Bawaannya pengin curhat, Sob!

Overall, aku sangat merekomendasikan buku ini buat semua orang yang mau membaca. Nggak cuma cewek ya. Buku ini mungkin bisa menginspirasi cowok-cowok juga (penulisnya aja cowok lho). Aku bersyukur bisa membahas buku ini di halaman DetEksi Jawa Pos (sekarang berubah nama jadi Zetizen) pada Desember tahun lalu. Aku berharap halaman itu menginspirasi banyak orang buat membaca sih. Pssst... Yang mau baca, coba check website BukaBuku. Lagi ada diskon besar tuh!

"Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people." - Henry Thomas Buckle [halaman 62] 

Thursday, September 12, 2013

Klub Buku: My Cup of Tea

Judul: My Cup of Tea
Penulis: Nia Nurdiansyah
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 354 Halaman
Harga: Rp 36.000 (BukaBuku)
Rating: ★★


Shereen dan Dipi sudah berteman sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu Dipi adalah anak pindahan dan Shereen adalah anak ketua RT yang sudah duduk di kelas 6. Perbedaan usia tiga tahun tidak membuat keduanya merasa canggung, justru semakin hari rasa sayang keduanya bertambah besar. Shereen menyayangi Dipi seperti adiknya sendiri, di lain pihak Dipi tidak mau terus dianggap sebagai adiknya.

Seperti membenarkan ungkapan "cowok dan cewek tidak akan pernah hanya menjadi sahabat", Nia Nurdiansyah tidak segan-segan memaparkan kisah seperti apa yang akan diusung dalam buku keduanya ini. Sembilan puluh halaman pertama berisi cerita awal pertemuan Dipi dan Shereen, perasaan berbeda yang dirasakan Dipi kepada sahabatnya, dan alasan utama mengapa dia menyukai teh yang dituliskan dengan sudut pandang orang ketiga. Alur cerita yang semakin mundur semakin lama terasa membosankan, seakan-akan penulis ingin memastikan kepada pembaca bahwa Dipi mencintai Shereen sehingga menuliskannya berulang-ulang.

Cerita mulai terasa segar ketika alur sudah kembali maju. Prestasi-prestasi yang telah dicapai Shereen menuntunnya pada Art, pria idaman semua wanita, dan predikatnya sebagai sosialita. Gaya hidupnya yang berubah semakin menjauhkannya dari Dipi. Namun Dipi, yang sedikit demi sedikit berjalan menuju impiannya, tetap memiliki perasaan yang sama kepada Shereen. Kehadiran Trista dalam hidupnya ternyata hanya bisa menjauhkannya dari Shereen beberapa lama.

Thursday, August 22, 2013

Unfriend You

Judul: Unfriend You
Pengarang: Dyah Rinni
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 275 Halaman
Harga: Rp 42.000


Aku adalah noda untuk dosa yang tak kulakukan.
Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti;
mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa ku raih.
Namun, yang tak kunjung ku pahami,
mengapa ada persahabatan yang menyakiti?

Ringan dan penuh pesan, itulah kesimpulan yang dapat kuambil setelah membaca buku ini. Aku suka cara Dyah menuturkan ceritanya, dari klimaks kemudian pembaca dibawa mundur dan berkenalan dengan para tokoh. Kesan misterius dan tegangnya jadi dapet. Cerita yang diangkat juga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kisah nyata; sebuah geng paling populer di sekolah - kecemburuan sosial - perebutan pacar - bullying. Entah sadar atau tidak, bullying itu sebenarnya masih ada. Karena sudah berbeda era, hal itu kerap dilakukan secara tidak langsung melalui media sosial, cyberbully.