Saturday, October 18, 2014

The TBR Tag!


HELLO again! It's been a long time since I posted something here. Thanks to Linda who tags me on this brand new tag called The To-Be-Read Tag :) I pushed myself hard just to do this. I'm so sorryyyy not be able to post book reviews regularly. I do still read books tho! I just haven't had time to write the review. Work and college are pretty crazy these days. I'm responsible for handling the news about the biggest youth convention in Indonesia called UBS DetEksi-Con 2k14 on early November. But the crazy preparations have been started since two months ago. Well, enough grumbling. You're here to read about my everyday-gets-higher TBR pile. So here you go:

How do you keep track of your TBR pile?
Wow, such a hard question, I admit! I use Goodreads only to manage now reading list. When I get new books, I'm gonna sort them first. Books that I have to read (in exchange for honest review from publishers or authors) will be placed on the table next to my bed. So, of course the pile is not that high :) But the books that I randomly buy, books that are not necessarily reviewed, I put them on my bookcase. Please note, my bookcase is not in my bedroom. It means I don't visit it very often. It's hard for me to keep up what's on there!

Saturday, July 26, 2014

Book Review: The Firm (Biro Hukum) by John Grisham

Judul Buku: The Firm (Biro Hukum)
Penulis: John Grisham
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 712 Halaman
Tahun Terbit: 1993
Harga: Rp 78.000 (Cover Baru)
Rating: ★★★

Biro Hukum (The Firm)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ia termasuk lima besar di kelasnya--di Harvard Law School. Tawaran pekerjaan mengalir dari biro-biro hukum terbaik di Amerika. Tapi pilihannya justru membawa bencana."
Mitch McDeere adalah salah satu fresh graduate terbaik dari Harvard. Dia juga memiliki seorang istri, Abby, yang cukup pintar. Tapi sayangnya, mereka hanya bisa tinggal di sebuah apartemen kecil murah ala pasangan muda yang baru lulus kuliah. Orang tua Abby pun sering memberi tatapan penuh kekecewaan pada Mitch. Maka dari itu saat tawaran menggiurkan dari Bendini, Lambert & Locke, sebuah biro kecil di Memphis, datang, Mitch menerimanya tanpa pikir panjang.

Tidak hanya gaji yang sangat besar, sebelum mulai bekerja pun Mitch sudah disodori BMW mewah. Dia diperbolehkan memilih rumah impian yang bisa dicicil dengan bunga rendah. Dia bisa dengan mudah keluar-masuk restauran mewah dan menikmati kehidupan ala kaum elite. Intinya, biro ingin setiap karyawannya hidup harmonis, bahagia, dan produktif. Biro bahkan menyediakan pesawat pribadi dan kondominium di beberapa lokasi wisata jika karyawannya ingin berlibur. Maka dari itu, perceraian merupakan sebuah pelanggaran di biro. Siapa yang bisa menolak tawaran seperti itu?

[Source]

Sayangnya, sedikit demi sedikit keadaan keluarga kecil McDeere berubah sejak seorang FBI bernama Terrance menemuinya. Terrance berkata, "Jangan percaya siapapun," dan Mitch menjadi resah karenanya. Mengapa FBI mencarinya? Beberapa anggota biro Bendini, Lambert & Locke memang baru saja ada yang meninggal dunia karena kecelakaan, tapi dia baru saja bergabung dan dia sama sekali tak tahu apapun. Pihak biro bersikeras bahwa FBI memang suka iseng menyelidiki mereka. Tapi sebenarnya, Mitch lebih pintar dari biro, bahkan FBI.

Saturday, June 28, 2014

Blog Tour: Ask Author People Like Us



Masih dalam rangkaian blog tour People Like Us karya Yosephine Monica, kali ini aku mendapat kesempatan bertanya langsung kepada penulis. Karena kebiasaan wawancara penulis by phone, aku merasa agak sulit menyingkat pertanyaan biar nggak terlalu panjang. I was hoping the answers would be long too, but... Yah, namanya juga one way communication, nggak bisa menggali lebih dalem lagi dari jawabannya. Let's check it out!

Apa sih alasan memilih setting yang serba western? Padahal biasanya penerbit kan nggak suka kalau penulis sok-sokan pakai setting dan nama ala barat, apalagi kalau tidak seberapa ngaruh ke cerita. Menurut Yosephine, apa pemilihan setting dan nama serba western ini berpengaruh secara signifikan pada cerita?

Saya memilih setting serba western karena bagi saya lebih simpel dan fleksibel. Saya juga sempat berpikir untuk membuat setting-nya di Indonesia, seperti Jakarta atau Bandung. Tapi saya tidak terbiasa dengan percakapan orang Jakarta, jadi saya sedikit bingung untuk menulis percakapannya. Sementara itu, jika saya membuat setting-nya di tempat saya tinggal (Medan), saya pikir tidak semua akan mengerti bahasa sehari-hari yang digunakan dalam percakapan.

Kalau setting luar negeri, dialognya tinggal memakai bahasa baku saja. Sementara itu, saya memang lebih nyaman menulis dengan penggunaan bahasa baku (di narasi maupun dialog). Jadi, agar pembaca tidak bertanya-tanya kenapa dialognya memakai bahasa baku tapi berlatar di Indonesia, saya memakai latar luar negeri supaya lebih masuk akal dengan dialog yang memakai bahasa baku. 

Sebagai pemenang kompetisi menulis, tentu menentukan ide cerita sangatlah sulit. Ide cerita PLU pun bisa ditemukan di beberapa buku lain, tapi aku sendiri merasa ada 'sesuatu yang beda' in a good way. Ide ceritanya dapat dari mana sih? Apa ada inspirasi sendiri?

Cerita ini memang kebanyakan berasal dari kisah nyata yang saya campur aduk. Saya punya teman yang suka dengan seseorang yang mengidap penyakit yang sama dengan Amy. Teman saya ini yang mendukung saya untuk terus menulis. 

Bahasa yang digunakan Yosephine ini puitis tapi nggak too much. Apa memang suka dengan puisi atau literatur yang klasik dan berat?

Wah, terima kasih komentarnya! Saya malah kurang tertarik dengan literatur berat karena bacanya kadang bikin pusing sendiri hehehe. Tapi mungkin karena gaya menulis saya seperti novel terjemahan, kesannya cerita ini jadi agak berat. Dulunya saya ingin jadi komikus karena kebanyakan baca manga. Tapi karena saya nggak punya bakat menggambar, saya coba cari cara lain untuk menyalurkan ide cerita tanpa menggambar, yaitu dengan menulis.

Apa ada buku fiksi yang paling bermakna untuk Yosephine? Mungkin sampai dibaca berulang-ulang?

Buku fiksi yang paling bermakna bagi saya itu The Five People You Meet in Heaven (Mitch Albom), karena ceritanya membuat kita berpikir tentang kehidupan setiap orang di dunia sebenarnya saling berhubungan. 

Kalau boleh tau, berapa lama sih pembuatan PLU ini? Mulai dari proses penulisan sebelum dikirim sebagai peserta kompetisi. Kemudia proses editingnya setelah dinobatkan sebagai pemenang. 

Ide ceritanya saya dapat sejak awal tahun lalu, tapi baru berani dikembangkan setelah tahu ada perlombaan yang diselenggarakan Penerbit Haru. Setelah menang, cerita ini diedit lagi sampai bulan April lalu. Jadi total waktunya setahun lebih.

Kalau misalnya Yosephine seberuntung John Green, apakah sudah ada bayangan siapa artis-artis yang akan memerankan karakter-karakter dalam PLU? 

Wah ketahuan deh saya ngefans sama siapa hehehe. Mungkin di bayangan saya Amy dan Ben itu mirip seperti Hannah Murray dan Nicholas Hoult. Ya, begitulah hehehe.


Aaaaaah... ternyata Yosephine memilih Hannah Murray sebagai Amelia Collins dan Nicholas Hoult sebagai Benjamin Miller :) Baca versiku di sini dan kamu masih punya waktu buat ikutan giveawaynya! Anyway, Hannah Murray ini memang kurang cantik. Tapi menurutku cocok kok jadi cewek cupu he he he. Aku sering lihat aktingnya di serial tv Game of Thrones. Sedangkan Nicholas Hoult kurang serem, ya nggak? Coba lihat aktingnya di The Warm Bodies deh. Jadi zombies aja dia nggak terlalu serem. Kamu bisa sharing artis yang menurutmu cocok memerankan kedua karakter utama dalam PLU tersebut di sini, biar bisa dapet hadiah juga :)

Best regards,
Ratri Anugrah

Thursday, June 26, 2014

Blog Tour: Girls in the Dark + Giveaway


ANKOKU JOSHI (GIRLS IN THE DARK)
Oleh: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru; Cetakan Pertama, Mei 2014
Tebal: 279 Halaman; Harga: Rp 41.600 (BukaBuku)

Hey ho! Selamat datang di blog tour lainnya :) Masih disponsori oleh Penerbit Haru, kali ini buku yang dibahas bergenre misteri. Waktu ditawarin, aku langsung bilang YES karena basically aku suka genre ini. Postingan kali ini bukan tentang review, tapi sneak peek. Meski begitu, lemme tell you that I had a great experience waktu baca buku ini. Mungkin awalnya terasa aneh karena gaya berceritanya beda, but in the end you'll love it ;)


Dari segi cover, I'd say it's also different. Bahkan teman di kampus pun ngira ini komik lho! ;) Gambar cewek di sampul represents salah satu girls in the dark itu menjadi tokoh utamanya. Tapi menurutku wajahnya kurang cantik ya. Biasanya kan ilustrasi cewek-cewek Jepang matanya berbentuk telur. Oh ya, gambar sebelah kanan adalah foto halaman pertama. I got the author's signature!! Yayy... Ini nih yang bikin aku seneng banget kerja sama sama Haru. Sering kali dapet surprise berbentuk signed paperback :) Thank you ya, Haru!

Tuesday, June 24, 2014

Blog Tour: People Like Us + Giveaway


Hai! Welcome to my blog :)
Setelah kalian berkeliling beberapa blog yang membahas sisi cerita People Like Us,
kali ini aku akan mengajak kalian untuk membayangkan para tokohnya.

----------------------------------------------------

Karena setting cerita adalah US (western), maka aku akan memiliki artist dari hollywood ya.

Amelia Collins (Main Character)

Mungkin kalian lebih sering mengenalnya sebagain Quinn Fabray, cheerleader paling eksis di serial TV Glee. Di sana dia digambarkan sebagai sosok jutek dan semaunya sendiri. Eits, tapi coba deh lihat peran yang Diana Agron mainkan di film I Am Number Four. Di situ dia beradu akting dengan Alex Pettyfer sebagai sosok gadis lemah lembut dan pintar. Persis dengan karakter Amelia Collins. Mungkin dengan gaya rambut yang sedikit berbeda akan membuat dia terlihat persis seperti Amy.